Hari 9 Jadi Kreator: Teknik Storytelling Sederhana agar Konten Lebih Menarik

Pernah bikin konten yang menurut kamu sudah bagus, tapi ternyata orang cuma melihat sebentar lalu pergi?

Bisa jadi masalahnya bukan pada kamera, desain, atau editing.

Kadang, konten terasa kurang menarik karena tidak punya cerita yang membuat orang ingin terus mengikuti sampai selesai.

Di sinilah storytelling bisa membantu.

Tenang, storytelling bukan berarti kamu harus menjadi penulis novel atau membuat cerita yang dramatis.

Untuk kreator pemula, storytelling sebenarnya bisa dilakukan dengan cara yang sederhana: ceritakan masalah, pengalaman, proses, atau kejadian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Storytelling dalam Konten?

Secara sederhana, storytelling adalah cara menyampaikan pesan melalui sebuah cerita.

Misalnya kamu ingin membuat konten tentang kesalahan saat mulai membuat konten.

Daripada langsung berkata:

"Jangan terlalu fokus mengejar jumlah followers."

Kamu bisa mengubahnya menjadi cerita:

"Dulu saya setiap hari cek followers. Naik satu senang, turun dua langsung kepikiran. Sampai akhirnya sadar, ternyata saya terlalu sibuk menghitung angka dan lupa membuat konten."

Pesannya sebenarnya sama.

Tapi versi kedua terasa lebih manusiawi karena ada pengalaman dan alur cerita di dalamnya.

Inilah kekuatan storytelling.

Audiens tidak hanya menerima informasi, tetapi juga bisa membayangkan dan merasakan situasinya.

Kenapa Storytelling Penting untuk Kreator?

Konten di media sosial sangat banyak.

Setiap hari orang melihat video, foto, carousel, artikel, dan berbagai macam informasi.

Kalau konten kita hanya menyampaikan informasi tanpa konteks, audiens bisa saja cepat melewatinya.

Storytelling membantu membuat informasi terasa lebih dekat.

Beberapa manfaatnya antara lain:

  • Membuat pembukaan konten lebih menarik.
  • Membantu audiens memahami pesan.
  • Membuat konten terasa lebih personal.
  • Membantu membangun karakter kreator.
  • Membuat informasi lebih mudah diingat.
  • Membuka ruang untuk interaksi dengan audiens.

Bukan berarti setiap konten harus dibuat dramatis.

Justru storytelling yang sederhana sering kali terasa lebih natural.

Cerita tentang gagal membuat konten, bingung mencari ide, mendapat komentar lucu, atau belajar sesuatu dari pengalaman sehari-hari juga bisa menjadi bahan konten.

Rumus Storytelling Sederhana untuk Pemula

Kalau masih bingung mulai dari mana, gunakan rumus sederhana:

Masalah → Proses → Pelajaran → Kesimpulan

Rumus ini bisa digunakan untuk video pendek, carousel, maupun artikel.

1. Masalah

Mulai dengan sesuatu yang sedang dialami.

Contohnya:

"Saya dulu bingung setiap hari mau posting apa."

Kalimat seperti ini sederhana, tetapi bisa membuat orang yang mengalami masalah sama merasa relate.

2. Proses

Ceritakan apa yang kemudian kamu lakukan.

Misalnya:

"Akhirnya saya mulai mencatat pertanyaan yang sering muncul dari teman dan followers."

Di sini audiens mulai mengikuti perjalanan ceritanya.

3. Pelajaran

Sampaikan hal yang kamu dapatkan dari pengalaman tersebut.

Contohnya:

"Ternyata ide konten tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Masalah sehari-hari justru bisa menjadi sumber ide."

4. Kesimpulan

Tutup dengan pesan yang mudah diingat.

Misalnya:

"Kalau kamu sedang kehabisan ide, coba lihat kembali masalah yang sering kamu temui."

Selesai.

Tidak perlu cerita panjang.

Yang penting ada alur yang jelas.

Contoh Penerapan Storytelling Sederhana

Misalnya kamu seorang kreator yang ingin membuat konten tentang belajar editing.

Versi biasa:

"Berikut 3 tips belajar editing untuk pemula."

Tidak salah.

Tapi bisa dibuat lebih menarik dengan storytelling:

"Waktu pertama belajar editing, saya butuh waktu hampir satu jam cuma untuk memotong video."

Lanjutkan:

"Saya pikir editing memang sesulit itu."

Kemudian masuk ke proses:

"Setelah beberapa kali mencoba, ternyata masalahnya bukan di aplikasinya. Saya belum memahami fitur dasar."

Lalu masuk ke pelajaran:

"Sejak saat itu saya berhenti belajar semuanya sekaligus. Saya fokus satu fitur setiap hari."

Dan tutup dengan kesimpulan:

"Kalau kamu baru mulai editing, jangan buru-buru menguasai semuanya. Kuasai dasar dulu."

Informasinya tetap sama.

Namun karena dikemas sebagai perjalanan, audiens punya alasan untuk mengikuti sampai bagian akhir.

Kesalahan Storytelling yang Sering Terjadi

Storytelling bukan berarti semakin panjang semakin bagus.

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan kreator pemula.

1. Terlalu banyak basa-basi

Pembukaan terlalu panjang bisa membuat audiens kehilangan perhatian.

Langsung masuk ke masalah atau cerita yang relevan.

2. Ceritanya tidak punya arah

Ada banyak kejadian yang diceritakan, tetapi audiens tidak tahu apa pelajarannya.

Pastikan setiap cerita punya pesan.

3. Terlalu dibuat-buat

Tidak semua cerita harus dramatis.

Pengalaman sederhana yang jujur justru sering terasa lebih dekat.

4. Terlalu fokus pada diri sendiri

Cerita memang berasal dari pengalaman kita, tetapi tetap pikirkan audiens.

Tanyakan:

"Apa yang bisa mereka dapatkan dari cerita ini?"

5. Tidak punya penutup

Setelah bercerita panjang, konten tiba-tiba selesai.

Coba berikan satu kesimpulan, pertanyaan, atau ajakan berdiskusi.

Tips Praktis Membuat Storytelling Setiap Hari

Kamu tidak perlu menunggu punya pengalaman luar biasa untuk mulai bercerita.

Coba lakukan beberapa hal sederhana berikut:

  • Catat kejadian menarik yang terjadi hari ini.
  • Simpan pertanyaan dari followers atau teman.
  • Catat kesalahan yang pernah kamu lakukan.
  • Dokumentasikan proses belajar sesuatu.
  • Ceritakan perubahan sebelum dan sesudah.
  • Ambil pelajaran dari pengalaman sehari-hari.
  • Perhatikan komentar yang sering muncul di konten.

Kamu juga bisa menggunakan tiga pertanyaan sederhana:

Apa yang terjadi?

Apa yang saya lakukan?

Apa yang saya pelajari?

Dari tiga pertanyaan tersebut saja, biasanya sudah cukup untuk membuat sebuah cerita pendek.

Penutup

Menjadi kreator bukan hanya soal membuat konten sebanyak mungkin.

Kita juga perlu belajar bagaimana menyampaikan sebuah pesan dengan cara yang membuat orang mau mendengarkan.

Storytelling bisa menjadi salah satu teknik sederhana untuk membuat konten terasa lebih hidup.

Tidak perlu cerita yang luar biasa.

Mulai saja dari pengalaman kecil, kesalahan sederhana, proses belajar, atau kejadian yang mungkin juga dialami orang lain.

Karena terkadang, cerita yang sederhana justru terasa paling dekat.

Kalau kamu sedang membangun akun dari awal, kamu juga bisa mempelajari strategi lainnya secara bertahap melalui artikel pilar tentang cara menjadi kreator dan membangun konten dari nol.

No comments:

Post a Comment