Kalau kamu mulai belajar digital marketing, mungkin pernah bertanya:
“Kenapa artikel atau konten saya sudah dibuat, tapi yang melihat sedikit?”
Salah satu penyebabnya bisa jadi karena kita membuat konten berdasarkan apa yang menurut kita menarik, bukan berdasarkan apa yang memang sedang dicari orang.
Nah, di sinilah riset keyword menjadi penting.
Riset keyword bukan cuma urusan SEO atau website. Cara berpikir ini juga bisa membantu kita memahami apa yang sedang dicari calon pelanggan.
Apa Itu Riset Keyword?
Secara sederhana, riset keyword adalah proses mencari dan menentukan kata atau frasa yang biasa digunakan orang ketika mencari informasi di mesin pencari seperti Google.
Contohnya, kamu ingin membuat konten tentang motor.
Kamu mungkin berpikir kata kuncinya adalah:
“motor Yamaha”
Tapi setelah melakukan riset, ternyata orang lebih sering mencari topik yang lebih spesifik seperti:
- motor Yamaha paling irit
- motor Yamaha untuk pemula
- cara merawat motor matic
- motor matic untuk perjalanan jauh
- perbedaan motor matic dan motor sport
Artinya, satu topik bisa memiliki banyak kemungkinan keyword.
Dengan mengetahui keyword tersebut, kita bisa membuat konten yang lebih sesuai dengan kebutuhan audiens.
Kenapa Riset Keyword Penting?
Bayangkan kamu membuka toko.
Sebelum menyediakan barang, tentu lebih masuk akal kalau kamu tahu apa yang sedang dicari pelanggan.
Begitu juga dengan konten.
Riset keyword membantu kita mendapatkan gambaran tentang:
- Apa yang sedang dicari audiens
- Masalah yang ingin mereka selesaikan
- Pertanyaan yang sering muncul
- Istilah yang digunakan calon pelanggan
- Topik yang berpotensi dikembangkan menjadi konten
Jadi, keyword sebenarnya bukan hanya soal “kata yang dicari di Google”.
Lebih jauh lagi, keyword bisa menjadi petunjuk tentang kebutuhan dan masalah audiens.
Contoh Riset Keyword Sederhana
Misalnya kamu ingin membuat blog tentang digital marketing.
Topik awalnya adalah:
“Digital marketing untuk pemula.”
Jangan langsung berhenti di situ.
Coba kembangkan menjadi beberapa pertanyaan:
- Apa itu digital marketing?
- Cara belajar digital marketing untuk pemula
- Digital marketing harus mulai dari mana?
- Apa saja contoh digital marketing?
- Cara mendapatkan pelanggan dari media sosial
- Apa itu SEO?
- Cara riset keyword untuk pemula
Dari satu topik utama, kamu sudah mendapatkan banyak ide konten.
Ini yang membuat riset keyword sangat berguna untuk membuat content plan.
Satu keyword juga bisa dikembangkan menjadi beberapa jenis konten.
Misalnya keyword “cara riset keyword” bisa menjadi:
- Cara riset keyword untuk pemula
- Kesalahan saat melakukan riset keyword
- Tools gratis untuk riset keyword
- Cara memilih keyword yang tepat
- Contoh riset keyword sederhana
Konten akhirnya tidak terasa dibuat secara acak karena memiliki hubungan satu sama lain.
Cara Melakukan Riset Keyword untuk Pemula
Tidak perlu langsung menggunakan tools SEO yang rumit.
Untuk tahap awal, kamu bisa menggunakan cara sederhana.
1. Mulai dari topik utama
Tentukan dulu topik yang ingin dibahas.
Contohnya:
“Digital marketing.”
Setelah itu, pikirkan pertanyaan yang mungkin muncul dari orang yang baru mengenal topik tersebut.
2. Gunakan Google Suggest
Coba ketik keyword utama di Google.
Misalnya:
digital marketing untuk...
Biasanya Google akan memberikan beberapa rekomendasi pencarian.
Rekomendasi tersebut bisa menjadi inspirasi keyword sekaligus ide konten.
Kamu juga bisa melihat bagian “Penelusuran terkait” di halaman hasil pencarian.
Dari sana, kamu bisa menemukan variasi kata kunci lain yang masih berhubungan dengan topik utama.
3. Perhatikan search intent
Ini bagian yang sering dilupakan pemula.
Jangan hanya melihat kata kuncinya.
Pahami juga maksud orang ketika melakukan pencarian.
Misalnya:
“apa itu SEO”
Kemungkinan orang tersebut sedang mencari informasi dasar.
Sedangkan:
“cara membuat SEO website”
Kemungkinan orang tersebut sudah memahami sedikit tentang SEO dan ingin langsung mempraktikkannya.
Keduanya sama-sama berkaitan dengan SEO, tetapi kebutuhan pembacanya berbeda.
Karena itu, kontennya juga sebaiknya berbeda.
4. Pilih keyword yang spesifik
Keyword yang terlalu umum biasanya memiliki persaingan yang lebih luas.
Untuk pemula, keyword yang lebih spesifik sering kali lebih mudah dijadikan titik awal.
Contohnya:
Terlalu umum:
“SEO”
Lebih spesifik:
“cara belajar SEO untuk pemula”
Keyword yang lebih panjang dan spesifik sering disebut long-tail keyword.
Tujuannya bukan sekadar mencari keyword yang panjang, tetapi menemukan pencarian yang memiliki konteks dan kebutuhan yang lebih jelas.
Contoh Penerapan dalam Bisnis
Misalnya kamu menjual produk otomotif.
Daripada hanya membuat artikel:
“Motor Matic”
kamu bisa mencari pertanyaan yang lebih spesifik.
Contohnya:
“Motor matic yang cocok untuk perjalanan jauh.”
Dari keyword tersebut, kamu bisa membuat artikel yang membahas:
- Hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih motor
- Posisi berkendara
- Kapasitas mesin
- Kenyamanan
- Konsumsi bahan bakar
- Kapasitas bagasi
- Kebutuhan penggunaan harian
Kontennya akhirnya tidak terasa seperti iklan.
Kamu sedang membantu pembaca mengambil keputusan.
Dan secara tidak langsung, pembaca juga mulai mengenal bisnis atau brand yang membuat konten tersebut.
Inilah salah satu fungsi content marketing.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Riset Keyword
Ada beberapa kesalahan sederhana yang sering dilakukan pemula.
Hanya mengejar keyword populer
Keyword dengan pencarian tinggi memang terlihat menarik.
Namun, jangan lupa mempertimbangkan tingkat persaingan dan relevansinya dengan konten yang kamu buat.
Keyword populer belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk website yang masih berkembang.
Memasukkan keyword terlalu banyak
Karena ingin SEO, akhirnya satu artikel dipenuhi keyword yang sama berulang-ulang.
Hasilnya justru terasa aneh ketika dibaca.
Google dan pembaca sama-sama membutuhkan konten yang jelas dan relevan.
Gunakan keyword secara natural.
Tidak memahami maksud pencarian
Keyword sudah benar, tetapi isi artikel tidak menjawab kebutuhan pembaca.
Ini juga bisa menjadi masalah.
Sebelum menulis, coba tanyakan:
“Orang yang mencari keyword ini sebenarnya ingin mendapatkan jawaban apa?”
Membuat konten tanpa hubungan
Riset keyword sebaiknya tidak hanya digunakan untuk membuat satu artikel.
Gunakan hasil riset untuk membangun kumpulan konten yang saling berhubungan.
Dengan begitu, website kamu bisa memiliki struktur konten yang lebih rapi.
Tips Praktis Riset Keyword
Kalau kamu baru mulai, tidak perlu langsung membuat riset yang rumit.
Coba gunakan alur sederhana berikut:
Topik → Keyword → Search Intent → Ide Konten
Misalnya:
Topik: Digital Marketing
Keyword: cara belajar digital marketing untuk pemula
Search Intent: mencari panduan awal
Ide konten: langkah belajar digital marketing dari dasar
Lakukan hal yang sama untuk beberapa topik lainnya.
Kamu juga bisa membuat spreadsheet sederhana berisi:
| Keyword | Intent | Ide Konten | Status |
|---|---|---|---|
| digital marketing untuk pemula | Informasi | Panduan digital marketing dasar | Belum |
| cara riset keyword | Informasi | Riset keyword untuk pemula | Selesai |
| apa itu SEO | Informasi | Mengenal SEO dasar | Belum |
Dengan cara sederhana seperti ini, kamu sudah mulai membangun sistem content planning.
Penutup
Riset keyword bukan sekadar mencari kata yang banyak diketik orang di Google.
Yang lebih penting adalah memahami apa yang sedang dicari, siapa yang mencarinya, dan masalah apa yang ingin mereka selesaikan.
Mulailah dari keyword sederhana.
Cari pertanyaannya.
Pahami kebutuhan orangnya.
Lalu buat konten yang benar-benar membantu.
Kalau kamu ingin memahami digital marketing secara lebih menyeluruh, lanjutkan membaca artikel pilar tentang Jago Digital Marketing agar setiap materi yang dipelajari bisa saling terhubung.



No comments:
Post a Comment