Ada hari ketika seorang sales semangat banget.
Bangun pagi rasanya siap mengejar target, rajin follow up, aktif mencari calon pelanggan, bahkan bikin konten tanpa disuruh.
Tapi ada juga hari ketika rasanya berat.
Chat tidak dibalas. Follow up belum menghasilkan. Target masih jauh. Ditambah ada pelanggan yang bilang, “Saya pikir-pikir dulu.”
Di kondisi seperti itu, semangat bisa turun.
Dan itu manusiawi.
Masalahnya bukan ketika semangat hilang. Masalahnya adalah ketika pekerjaan ikut berhenti karena menunggu semangat kembali.
Di sinilah disiplin seorang sales mulai diuji.
Semangat Bisa Naik Turun
Semangat biasanya muncul ketika kita melihat hasil.
Dapat pelanggan baru, closing, mendapatkan pujian dari atasan, atau melihat target mulai tercapai bisa membuat energi terasa bertambah.
Sebaliknya, ketika beberapa hari tidak ada hasil, semangat bisa ikut turun.
Sales kemudian mulai berpikir:
- “Hari ini follow up nanti saja.”
- “Kayaknya customer belum tertarik.”
- “Besok saja cari prospek.”
- “Lagi nggak mood bikin konten.”
- “Nanti kalau sudah semangat baru mulai lagi.”
Kalau kebiasaan ini terus dilakukan, pekerjaan akan bergantung pada suasana hati.
Padahal aktivitas sales tetap harus berjalan meskipun kondisi hati sedang tidak ideal.
Kenapa Disiplin Lebih Penting daripada Semangat?
Semangat membantu kita memulai.
Tetapi disiplin membantu kita tetap berjalan.
Bayangkan ada dua sales.
Sales pertama bekerja sangat keras ketika sedang semangat, tetapi berhenti ketika mood turun.
Sales kedua mungkin tidak selalu bekerja dengan energi maksimal, tetapi tetap menjalankan aktivitas dasarnya setiap hari.
Misalnya tetap:
- Menghubungi calon pelanggan.
- Follow up prospek.
- Membalas chat.
- Mencari pelanggan baru.
- Membuat konten.
- Mencatat hasil komunikasi.
- Mengevaluasi aktivitas hari itu.
Dalam jangka panjang, konsistensi aktivitas akan membantu menciptakan lebih banyak kesempatan.
Bukan berarti disiplin otomatis menjamin setiap aktivitas menghasilkan closing.
Tetapi tanpa aktivitas yang konsisten, peluang untuk mendapatkan hasil juga menjadi lebih sedikit.
Contoh Sederhana dalam Kehidupan Sales
Misalnya seorang sales punya target mendapatkan 10 prospek baru setiap hari.
Hari Senin dia semangat.
Dia mendapatkan 15 prospek.
Hari Selasa mulai lelah.
Dia hanya mendapatkan 8 prospek.
Hari Rabu ada beberapa customer yang tidak merespons.
Dia tetap mencari 10 prospek.
Hari Kamis mood sedang turun.
Dia tetap menyelesaikan target aktivitas minimum.
Hari Jumat dia evaluasi.
Dari pola tersebut, mungkin tidak setiap hari menghasilkan penjualan.
Namun setidaknya aktivitas tetap berjalan.
Dan dari aktivitas itulah muncul percakapan, follow up, kebutuhan pelanggan, hingga kemungkinan transaksi.
Sales tidak selalu bisa mengontrol kapan customer membeli.
Tetapi sales masih bisa mengontrol apakah hari ini mau bergerak atau tidak.
Jangan Menunggu Mood untuk Bekerja
Salah satu jebakan yang sering terjadi adalah menunggu mood.
“Kalau mood bagus, baru follow up.”
“Kalau lagi kreatif, baru bikin konten.”
“Kalau lagi semangat, baru cari prospek.”
Masalahnya, mood tidak punya jadwal tetap.
Kalau pekerjaan selalu menunggu mood, produktivitas akan sulit konsisten.
Coba ubah pola pikirnya.
Bukan:
“Saya harus semangat dulu baru bekerja.”
Tetapi:
“Saya mulai bekerja dulu, semangat bisa mengikuti.”
Tidak perlu langsung melakukan pekerjaan besar.
Mulai dari aktivitas paling sederhana.
Buka daftar prospek.
Pilih beberapa nama.
Kirim follow up.
Balas chat.
Cari satu calon pelanggan baru.
Setelah mulai bergerak, biasanya pekerjaan terasa lebih ringan daripada ketika hanya dipikirkan.
Buat Standar Minimum Harian
Disiplin tidak harus berarti bekerja tanpa berhenti sepanjang hari.
Justru lebih mudah kalau kita punya standar minimum yang jelas.
Contohnya:
Standar minimum sales hari ini:
- 10 prospek baru.
- 10 follow up.
- Membalas seluruh chat yang masuk.
- Membuat atau memposting 1 konten.
- Mencatat hasil komunikasi.
- Evaluasi selama 10 menit sebelum pulang.
Jumlahnya tentu bisa disesuaikan dengan pekerjaan masing-masing.
Tujuannya bukan membuat diri sendiri sibuk.
Tujuannya adalah memastikan aktivitas penting tidak berhenti hanya karena semangat sedang turun.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Ada beberapa kesalahan yang cukup umum dilakukan ketika semangat mulai turun.
1. Menghilang dari pelanggan
Karena belum mendapatkan respons, sales berhenti menghubungi pelanggan sama sekali.
Padahal pelanggan bisa saja belum siap membeli.
2. Hanya mengejar customer yang mudah
Ketika sedang tidak semangat, kita cenderung memilih pekerjaan yang terasa nyaman.
Padahal prospek yang membutuhkan pendekatan lebih panjang juga perlu diperhatikan.
3. Menganggap tidak closing berarti tidak produktif
Closing memang penting.
Tetapi aktivitas seperti mencari prospek, membangun hubungan, melakukan follow up, dan memberikan informasi juga merupakan bagian dari proses penjualan.
4. Terlalu bergantung pada motivasi
Motivasi bisa membantu.
Tetapi sistem kerja yang sederhana biasanya lebih mudah dipertahankan daripada mengandalkan motivasi setiap hari.
Tips Praktis agar Tetap Jalan
Kalau hari ini semangat sedang rendah, tidak perlu memaksa diri menjadi super produktif.
Coba gunakan beberapa cara sederhana berikut.
Mulai dari tugas paling kecil
Jangan berpikir harus menyelesaikan semuanya.
Katakan:
“Saya follow up tiga customer dulu.”
Setelah selesai, lanjutkan lagi.
Gunakan daftar aktivitas
Tulis pekerjaan yang harus dilakukan.
Misalnya:
☐ Cari prospek
☐ Follow up
☐ Balas chat
☐ Buat konten
☐ Update database
☐ Evaluasi
Checklist sederhana bisa membantu pekerjaan terasa lebih terarah.
Bedakan mood dengan tanggung jawab
Kita boleh sedang tidak bersemangat.
Tetapi tetap ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Tidak perlu berpura-pura selalu semangat.
Cukup tetap menjalankan bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.
Evaluasi, bukan menyalahkan diri sendiri
Kalau hari ini hasilnya kurang bagus, jangan langsung berpikir:
“Saya memang tidak cocok jadi sales.”
Lebih baik tanyakan:
- Apa yang sudah saya lakukan?
- Bagian mana yang belum maksimal?
- Apa yang bisa diperbaiki besok?
- Aktivitas mana yang paling menghasilkan respons?
Dengan begitu, hari yang kurang bagus tetap bisa memberikan pelajaran.
Ingat, Sales Itu Permainan Jangka Panjang
Tidak semua hari akan menghasilkan closing.
Ada hari ketika customer datang sendiri.
Ada hari ketika kita harus aktif mencari.
Ada hari ketika banyak chat masuk.
Ada juga hari ketika inbox terasa sepi.
Itulah bagian dari perjalanan menjadi sales.
Karena itu, jangan mengukur kemampuan hanya dari hasil satu hari.
Lihat juga kebiasaan yang sedang dibangun.
Apakah kita konsisten mencari prospek?
Apakah kita tetap melakukan follow up?
Apakah kita terus belajar memahami pelanggan?
Apakah kita tetap memperbaiki cara berkomunikasi?
Karena sales yang berkembang bukan hanya sales yang bisa menjual.
Tetapi sales yang mampu terus belajar dan tetap bergerak ketika kondisi tidak selalu sesuai harapan.
Penutup
Semangat itu penting.
Tapi semangat tidak selalu hadir setiap hari.
Ada kalanya kita merasa lelah, bosan, kecewa, atau kehilangan motivasi.
Tidak apa-apa.
Yang penting, jangan biarkan hilangnya semangat menghentikan seluruh aktivitas.
Semangat membantu kita berlari.
Disiplin membantu kita tetap berjalan.
Dan dalam perjalanan menjadi sales, terkadang kemampuan untuk tetap berjalan jauh lebih penting daripada seberapa cepat kita berlari.
Kalau kamu ingin belajar perjalanan menjadi sales dari dasar secara bertahap, lanjutkan membaca artikel pilar “26 Hari Jadi Sales” untuk melihat materi dan latihan lainnya.



No comments:
Post a Comment